WeLcome To RuLLi's Blog

Dynamic Blinkie Text Generator at TextSpace.net

^ CerPenKu^


Tukang Parkirku Cantik

 Hari itu matahari  tersenyum manja dan langitpun tampak cerah tanpa awan , siang yang begitu terik. Seorang gadis belia berdiri di depan minimarket dengan memakai baju biru serta topi yang berwarna biru pula. Gadis itu membawa peluit serta kardus-kardus di tangannya. Yach..itulah Gyfta, seorang gadis  belia berusia 17 tahun yang harus hidup dengan keringatnya sendiri, diusia yang amat muda ia harus menjadi seorang tukang parkir yang sejatinya ialah pekerjaan yang harus dilakoni oleh seorang pria.
Menjadi seorang tukang parkir sejatinya bukan cita-cita Gifta, namun apa daya nasib tak berpihak padanya. Keadaan ekonomi keluarganya menuntut dirinya untuk mandiri. Penghasilan yang minim sebagai tukang becak dan buruh cuci yang dilakoni oleh kedua orang tuanya tak cukup untuk menghidupi Gyfta dan ke-3 adiknya. Gyfta pun tak kuasa melihat ke-2 orang tuanya yang sudah setengah baya itu banting tulang, hatinya tergerak tuk meringankan beban ke-2 orang tuanya.
Gyfta sudah menjadi tukang parkir kurang lebih 3 bulan. Ia melakoni pekerjaan ini dengan hati ikhlas. Setiap ada pengunjung yang datang di tempat ia bekerja, ia selalu memberikan senyum manis sebagai tanda sapa kepada para pengunjung. Namun entah apa yang terjadi, hari itu ada seorang pemuda bernama Satriya yang hendak berbelanja di minimarket tempat Gyfta bekerja, ia memakai kaos warna merah dengan garis hitam serta jeans hitam. Ia memarkir motornya di depan minimarket itu dan Gyfta bergerak cepat untuk menutup ….. motor dengan kardus miliknya. Sesudah  Satriya selesai berbelanja dan membayar semua belanjaannya, ia segera keluar dari minimarket dan menuju ke motornya.
Melihat pemilik motor yang keluar dari minimarket, Gyfta langsung berlari kearahnya dan mengambil kardusnya. Ketika  Satriya tak sengaja melihat tukang parkir di hadapannya, tiba-tiba jantungnya berdetak kencang dan tubuhnya terpaku tak bisa bergerak. Satriya terpana melihat pancaran wajah ayu Gyfta serta rambut panjangnya yang terurai indah. Gyfta bingung dengan pelanggannya itu yang tiba-tiba saja bengong. Dengan wajah polos Gyfta mencoba menegur namun Satriya tak merespon. Gyfta mencoba tuk menegurnya lagi.
Gyfta    : “ Permisi maz..??”  ( Satriya tetap tak merespon )
Gyfta    : “ Maz..???” ( Satriya pun mulai sadar dari lamunannya )
Satriya  : “ Oya mbak maaf?”
Gyfta    : “ Ya nggak apa-apa koq maz.”
Satriya  : “ Ini mbak “ ( Satriya memberikan upah pada Gyfta )
Gyfta    : “ Terimakasih maz” ( Satriya menganggguk )
Lalu Satriya pergi dari minimarket itu. Sepanjang jalan di benak Satriya terbesit sebuah pertanyaan “ Sebenarnya siapa gadis cantik itu? “. Semenjak saat itu yang ada di fikiran Satriya adalah bayangan wajah Gyfta dan semenjak saat itu pula Satriya berusaha untuk menemui Gyfta namun tak berhasil karena sudah 5 hari ini Gyfta tidak masuk kerja. Di hari ke-9 semenjak pertemuan pertama itu, Satriya mencoba datang ke minimarket itu lagi. Namun kali ini Satriya beruntung karena Gyfta masuk kerja.

Satiya berpura-pura berbelanja. Setelah itu Satriya mencoba menyapa Gyfta.
Satriya  : “ Mbak…??” ( dengan suara agak berat )
Gyfta    : “ Ya maz.”
Satriya  : “ Hmm..masih ingat sama aku?? ” ( sambil memberi Gyfta upah )
Gyfta    : “ Hmmm..??” ( Gyfta agak lupa)
Satriya  : “ Aku yang datang 9 hari lalu yang kamu tegur karena bengong? Masih ingat?”
Gyfta    : “ O yang waktu itu ya? ( dengan sedikit senyum ) Maaf mas saya agak lupa karena terlalu banyak pengunjung disini.”
Satriya  : “ Nggak apa-apa koq mbak “
( Tiba-tiba ada pelanggan Gyfta yang memanggilnya )
Gyfta    : “ Maaf maz saya harus bekerja kembali “ ( Gyfta berlari kearah pelanggan yang memanggilnya )
Satriya  : “ Mbak siapa nama kamu?” ( Satriya berteriak )
Gyfta    : “ Nama saya Gyfta. “ ( Gyfta menjawab)
Gyfta kembali bertugas dan Satriya pun pulang dengan hati senang karena sudah mengetahui nama gadis cantik yang sudah 9 hari membuat pikirannya kacau.
Di malam yang kian larut serta angin yang begitu dingin menembus di sela-sela jendela kamar Satriya, namun Satriya tak bisa tidur karena memikirkan Gyfta.
Satriya  : “ Gyfta…,nama yang cantik, persis dengan orangnya.” ( gumam Satriya dalam hati )
Hari berganti hari, namun tak ada yang menggantikan Gyfta dipikiran Satriya. Satriya lebih rentan mengunjungi minimarket itu untuk menemui Gyfta tapi dengan alasan berbelanja atau sekedar mengantar mamanya berbelanja disana. Yach..semakin hari Sartriya dan Gyfta semakin dekat karena seringkali bertemu. Tak heran kalau setiap mereka bertemu, mereka selalu bercanda tawa di tempat Gyfta bekerja  sambil menunggu pengunjung yang memakirkan motornya. Walaupun Satriya adalah anak orang kaya namun Satriya tak risih menemani Gyfta di tampat kerja.
Hingga tiba suatu hari ketika langit mendung dan angin bertiup agak kencang, Satriya memberanikan diri untuk mengutarakan perasaannya pada Gyfta. Seperti biasanya Satriya datang ke tempat Gyfta bekerja dan kala itu tak ada pengunjung yang datang. Tiba-tiba suasana menjadi sepi seolah tak ada orang selain mereka di tempat itu. Satriya mencoba memulai.
Satriya  : “Hmm..Gyfta” ( dengan sedikit deg-degan )
Gyfta    : “ Ya Sat,ada apa?”
Satriya  : “Hmm..aku mau ngomong sesuatu ama kamu”
Gyfta    : “ Ya ngomong aja Sat.”
Satriya  : “ Hmm..tapi gimana ya ngomongnya?”
Gyfta    : “ Ngomong aja lagi Sat, nyantai aja. Kaya’ nggak pernah ngomong ama aku aja nich? Kita kan udah sering banget ngobrol?”
Satriya  : “ Tapi ini beda.”
Gyfta    : “ Apanya yang beda?” ( Gyfta mulai bingung )
Satriya  : “ Hmm..aku mau bilang tapi janji ya kamu nggak bakal marah?”
Gyfta    : “ Ya aku janji. Udah sekarang ngomong apa yang mau kamu omongin ke aku biar aku nggak penasaran gini. Lagian hari ini sikap kamu beda banget ama aku, sebenarnya ada apa sich?”
Satriya  : “ Hmmm…sebenarnya aku mau ngomong ini ama kamu sejak dulu tapi aku takut mau ngomong ini ama kamu. Selama ini semenjak aku ketemu ama kamu, aku merasa ada yang aneh dalam diri aku. Aku nggak tau kenapa?? Tapi setelah aku kenal kamu lebih jauh dan cukup lama akhirnya aku tahu perasaan apa yang selama ini ada dalam diri aku. Gyfta… ( sambil memegang kedua tangan Gyfta ) aku suka ama kamu. Apa kamu mau jadi ^special person^ buat aku??” ( satriya memejamkan mata )
Gyfta    : “ Hah..??” ( Gyfta tak percaya )
Satriya  : “ Gyfta please jawab pertanyaanku biar pikiranku dan hatiku menemukan jawabannya!!!”
Gyfta    : “ Sat..” ( Gyfta mencoba tuk menjawab )
Satriya  : “ Aku ikhlas apa pun jawabanmu nanti Gyfta, aku Cuma ingin kamu tahu apa yang selama ini aku rasa.”
Gyfta    : “ Sat..,aku seneng banget selama ini kamu bisa nemenin aku disini dan meluangkan waktumu tuk nemenin aku ngobrol. Tapi Sat, aku ini cuma seorang tukang parkir dan keluargaku juga nggak sederajat ama keluarga kamu.”
Satriya  : “ Aku nggak peduli dengan asal-usul keluarga kamu. Aku anggap kalau semua orang itu derajatnya sama. Aku nggak peduli dengan itu Gyf, aku Cuma peduli dengan jawabanmu sekarang. Please jawab dengan jujur! Apa kamu punya perasaan yang sama ama aku??”
Gyfta    : “ Hmmm..” ( Gyfta bingung )
Satriya  : “ Please jawab!!! “
Gyfta    : “ Hmm…jujur Sat, sebenarnya selama ini aku juga naruh hati ama kamu Sat. aku merasa nyaman kalau ada di dekat kamu. Aku juga merasa aman kalau ada kamu. Aku kagum ama kamu Sat, kamu peduli ama aku dan nggak mandang pekerjaanku yang Cuma seorang tukang parkir ini.”
Satriya  : “ Jadi Gyf, apa jawabanmu? “ ( jantung Satriya berdetak lebih kencang )
Gyfta    : “ Hmm..maaf Sat, aku nggak bisa” ( satriya mulai lemas ) Hmm…maksudnya aku nggak bisa nolak orang baik kayak kamu.”
Satriya   : “ Hah..???” ( satriya kaget )
Gyfta     : “ Ya Sat, aku amu jadi ^special person^ buat kamu”
Satriya girang mendengar jawaban Gyfta. Sesaat kemudian hujan pun turun seolah langit ikut terharu melihat kebahagiaan mereka berdua. Sejak saat itu, Satriya dan Gyfta menjalin suatu hubungan dan beberapa bulan kemudian Satriya mengajak Gyfta menemui ke-2 orang tua Satriya dan mereka pun dapat menerima Gyfta dengan baik karena GYfta juga anak yang baik, sopan, cantik dan bicaranya juga sangat lembut. Tentunya orang tua Gyfta juga menerima Satriya dengan baik pula. Satriya dan Gyfta berharap mereka bisa terus seperti ini selamanya.

Karya : RuLLi Indah Sari